Ragam Budaya Suku Sunda

Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, dari Ujung Kulon di ujung barat pulau Jawa hingga sekitar Brebes (mencakup wilayah administrasi propinsi Jawa Barat, Banten, sebagian DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Tengah. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Kerana letaknya yang berdekatan dengan ibu kota negara maka hampir seluruh suku bangsa yang ada di Indonesia terdapat di provinsi ini. 65% penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda yang merupakan penduduk asli provinsi ini. Suku lainnya adalah Suku Jawa yang banyak dijumpai di daerah bagian utara Jawa Barat, Suku Betawi banyak mendiami daerah bagian barat yang bersempadan dengan Jakarta. Suku Minang dan Suku Batak banyak mendiami Kota-kota besar di Jawa Barat, seperti Bandung, Cimahi, Bogor, Bekasi, dan Depok. Sementara itu Orang Tionghoa banyak dijumpai hampir di seluruh daerah Jawa Barat.
A.    KEBUDAYAAN SUKU SUNDA
Ragam Budaya Suku Sunda merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan. Kebudayaan- kebudayaan tersebut akan dijabarkan sebagai berikut :
1.      SISTEM KEPERCAYAAN
Hampir semua orang Sunda beragama Islam. Hanya sebagian kecil yang tidak beragama Islam, diantaranya orang-orang Baduy yang tinggal di Banten Tetapi juga ada yang beragama Katolik, Kristen, Hindu, Budha.Selatan. Praktek-praktek sinkretisme dan mistik masih dilakukan. Pada dasarnya seluruh kehidupan orang Sunda ditujukan untuk memelihara keseimbangan alam semesta. 
     Keseimbangan magis dipertahankan dengan upacara-upacara adat, sedangkan keseimbangan sosial dipertahankan dengan kegiatan saling memberi (gotong royong). Hal yang menarik dalam kepercayaan Sunda, adalah lakon pantun Lutung Kasarung, salah satu tokoh budaya mereka, yang percaya adanya Allah yang Tunggal (Guriang Tunggal) yang menitiskan sebagian kecil diriNya ke dalam dunia untuk memelihara kehidupan manusia (titisan Allah ini disebut Dewata). Ini mungkin bisa menjadi jembatan untuk mengkomunikasikan Kabar Baik kepada mereka.
2.      MATA PENCAHARIAN
Suku Sunda umumnya hidup bercocok tanam. Kebanyakan tidak suka merantau atau hidup berpisah dengan orang-orang sekerabatnya. Kebutuhan orang Sunda terutama adalah hal meningkatkan taraf hidup. Menurut data dari Bappenas (kliping Desember 1993) di Jawa Barat terdapat 75% desa miskin. Secara umum kemiskinan di Jawa Barat disebabkan oleh kelangkaan sumber daya manusia. Maka yang dibutuhkan adalah pengembangan sumber daya manusia yang berupa pendidikan,   pembinaan, dll.
3.      KESENIAN
KIRAB HELARAN
Kirap helaran atau yang disebut sisingaan adalah suatu jenis kesenian tradisional atau seni pertunjukan rakyat yang dilakukan dengan arak-arakan dalam bentuk helaran. Pertunjukannya biasa ditampilkan pada acara khitanan atau acara-acara khusus seperti ; menyambut tamu, hiburan peresmian, kegiatan HUT Kemerdekaan RI dan kegiatan hari-hari besar lainnya.  Seperti yang diikuti ratusan orang dari perwakilan seluruh kelurahan di Cimahi, yang berupa arak-arakan yang pernah digelar pada saat Hari Jadi ke-6 Kota Cimahi. Kirap ini yang bertolak dari Alun-alun Kota Cimahi menuju kawasan perkantoran Pemkot Cimahi, Jln. Rd. Demang Hardjakusumah itu, diikuti oleh kelompok-kelompok masyarakat yang menyajikan seni budaya Sunda, seperti sisingaan, gotong gagak, kendang rampak, calung, engrang, reog, barongsai, dan klub motor.

KARYA SASTRA
Di bawah ini disajikan daftar karya sastra dalam bahasa Jawa yang berasal dari daerah kebudayaan Sunda. Daftar ini tidak lengkap, apabila para pembaca mengenal karya sastra lainnya dalam bahasa Jawa namun berasal dari daerah Sunda,
·                      Babad Cerbon
·                      Cariosan Prabu Siliwangi
·                      Carita Ratu Galuh
·                      Carita Purwaka Caruban Nagari
·                      Carita Waruga Guru
·                      Kitab Waruga Jagat
·                      Layang Syekh Gawaran
·                      Pustaka Raja Purwa
·                      Sajarah Banten
·                      Suluk Wuyung Aya
·                      Wahosan Tumpawarang
·                      Wawacan Angling Darma
·                      Wawacan Syekh Baginda Mardan
·                      Kitab Pramayoga/jipta Sara
PENCAK SIALAT  CIKALONG
Pencak silat Cikalong tumbuh dikenal dan menyebar, penduduk tempatan menyebutnya "Maempo Cikalong". Khususnya di Jawa Barat dan diseluruh Nusantara pada umumnya, hampir seluruh perguruan pencak silat melengkapi teknik perguruannya dengan aliran ini.
Daerah Cianjur sudah sejak dahulu terkenal sebagai daerah pengembangan kebudayaan Sunda seperti; musik kecapi suling Cianjuran, klompen cianjuran, pakaian moda Cianjuran yang sampai kini dipergunakan dll.
SENI TARI
a.                        TARI JAIPONGAN
Tanah Sunda (Priangan) dikenal memiliki aneka budaya yang unik dan menarik, Jaipongan adalah salah satu seni budaya yang terkenal dari daerah ini. Jaipongan atau Tari Jaipong sebetulnya merupakan tarian yang sudah moderen karena merupakan modifikasi atau pengembangan dari tari tradisional khas Sunda yaitu Ketuk Tilu.Tari Jaipong ini dibawakan dengan iringan musik yang khas pula, yaitu Degung. Musik ini merupakan kumpulan beragam alat musik seperti Kendang, Go'ong, Saron, Kacapi, dsb. Degung bisa diibaratkan 'Orkestra' dalam musik Eropa/Amerika. Ciri khas dari Tari Jaipong ini adalah musiknya yang menghentak, dimana alat musik kendang terdengar paling menonjol selama mengiringi tarian. Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang, berpasangan atau berkelompok. Sebagai tarian yang menarik, Jaipong sering dipentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan atau pesta pernikahan.
b.                       TARI MERAK
c.                        TARI TOPENG
SENI MUSIK DAN SUARA
Selain seni tari, tanah Sunda juga terkenal dengan seni suaranya. Dalam memainkan Degung biasanya ada seorang penyanyi yang membawakan lagu-lagu Sunda dengan nada dan alunan yang khas. Penyanyi ini biasanya seorang wanita yang dinamakan Sinden. Tidak sembarangan orang dapat menyanyikan lagu yang dibawakan Sinden karena nada dan ritme-nya cukup sulit untuk ditiru dan dipelajari.Dibawah ini salah salah satu musik/lagu daerah Sunda :
·       Bubuy Bulan
·       Es Lilin
·       Manuk Dadali
·       Tokecang
·       Warung Pojok
WAYANG GOLEK
Jepang boleh terkenal dengan 'Boneka Jepangnya', maka tanah Sunda terkenal dengan kesenian Wayang Golek-nya. Wayang Golek adalah pementasan sandiwara boneka yang terbuat dari kayu dan dimainkan oleh seorang sutradara merangkap pengisi suara yang disebut Dalang. Seorang Dalang memiliki keahlian dalam menirukan berbagai suara manusia. Seperti halnya Jaipong, pementasan Wayang Golek diiringi musik Degung lengkap dengan Sindennya. Wayang Golek biasanya dipentaskan pada acara hiburan, pesta pernikahan atau acara lainnya. Waktu pementasannya pun unik, yaitu pada malam hari (biasanya semalam suntuk) dimulai sekitar pukul 20.00 - 21.00 hingga pukul 04.00 pagi. Cerita yang dibawakan berkisar pada pergulatan antara kebaikan dan kejahatan (tokoh baik melawan tokoh jahat). Ceritanya banyak diilhami oleh budaya Hindu dari India, seperti Ramayana atau Perang Baratayudha. Tokoh-tokoh dalam cerita mengambil nama-nama dari tanah India.Dalam Wayang Golek, ada 'tokoh' yang sangat dinantikan pementasannya yaitu kelompok yang dinamakan Purnakawan, seperti Dawala dan Cepot. Tokoh-tokoh ini digemari karena mereka merupakan tokoh yang selalu memerankan peran lucu (seperti pelawak) dan sering memancing gelak tawa penonton. Seorang Dalang yang pintar akan memainkan tokoh tersebut dengan variasi yang sangat menarik.
ALAT MUSIK
·       Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).
·       Angklung adalah sebuah alat atau waditra kesenian yang terbuat dari bambu khusus yang ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya angklung masih sebatas kepentingan kesenian local atau tradisional
KETUK TILU
Ketuk Tilu adalah suatu tarian pergaulan dan sekaligus hiburan yang biasanya diselenggarakan pada acara pesta perkawinan, acara hiburan penutup kegiatan atau diselenggrakan secara khusus di suatu tempat yang cukup luas. Pemunculan tari ini di masyarakat tidak ada kaitannya dengan adat tertentu atau upacara sakral tertentu tapi murni sebagai pertunjukan hiburan dan pergaulan. Oleh karena itu tari ketuk tilu ini banyak disukai masyarakat terutama di pedesaan yang jarang kegiatan hiburan.
SENI BANGRENG
Seni Bangreng adalah pengembangan dari seni "Terbang" dan "Ronggeng". Seni terbang itu sendiri merupakan kesenian yang menggunakan "Terbang", yaitu semacam rebana tetapi besarnya tiga kali dari alat rebana. Dimainkan oleh lima pemain dan dua orang penabu gendang besar dan kecil.
RENGKONG
Rengkong adalah salah satu kesenian tradisional yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Sunda. Muncul sekitar tahun 1964 di daerah Kabupaten Cianjur dan orang yang pertama kali memunculkan dan mempopulerkannya adalah H. Sopjan. Bentuk kesenian ini sudah diambil dari tata cara masyarakat sunda dahulu ketika menanam padi sampai dengan menuainya
KUDA RENGGONG
Kuda Renggong atau Kuda Depok ialah salah satu jenis kesenian helaran yang terdapat di Kabupaten Sumedang, Majalengka dan Karawang. Cara penyajiannya yaitu, seekor kuda atau lebih di hias warna-warni, budak sunat dinaikkan ke atas punggung kuda tersebut, Budak sunat tersebut dihias seperti seorang Raja atau Satria, bisa pula meniru pakaian para Dalem Baheula, memakai Bendo, takwa dan pakai kain serta selop.
KECAPI SULING
Kacapi Suling adalah salah satu jenis kesenian Sunda yang memadukan suara alunan Suling dengan Kacapi (kecapi), iramanya sangat merdu yang biasanya diiringi oleh mamaos (tembang) Sunda yang memerlukan cengkok/ alunan tingkat tinggi khas Sunda. Kacapi Suling berkembang pesat di daerah Cianjur dan kemudian menyebar kepenjuru Parahiangan Jawa Barat dan seluruh dunia.
4.      SISTEM KEKERABATAN
Sistem keluarga dalam suku Sunda bersifat parental, garis keturunan ditarik  dari pihak ayah dan ibu bersama. Dalam keluarga Sunda, ayah yang bertindak sebagai kepala keluarga. Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama Islam yang sangat mempengaruhi adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku Sunda.Dalam suku Sunda dikenal adanya pancakaki yaitu sebagai istilah-istilah untuk menunjukkan hubungan kekerabatan. Dicontohkannya, pertama, saudara yang berhubungan langsung, ke bawah, dan vertikal. Yaitu anak, incu (cucu), buyut (piut), bao, canggahwareng atau janggawareng, udeg-udeg, kaitsiwur atau gantungsiwur. Kedua, saudara yang berhubungan tidak langsung dan horizontal seperti anak paman, bibi, atau uwak, anak saudara kakek atau nenek, anak saudara piut. Ketiga, saudara yang berhubungan tidak langsung dan langsung serta vertikal seperti keponakan anak kakak, keponakan anak adik, dan seterusnya. Dalam bahasa Sunda dikenal pula kosa kata sajarah dan sarsilah (salsilah, silsilah) yang maknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam bahasa Indonesia. Makna sajarah adalah susun galur/garis keturunan.
5.      BAHASA
Bahasa yang digunakan oleh suku ini adalah bahasa Sunda. Bahasa Sunda adalah bahasa yang diciptakan dan digunakan sebagai alat komunikasi oleh Suku Sunda, dan sebagai alat pengembang serta pendukung kebudayaan Sunda itu sendiri. Selain itu bahasa Sunda merupakan bagian dari budaya yang memberi karakter yang khas sebagai identitas Suku Sunda yang merupakan salah satu Suku dari beberapa Suku yang ada di Indonesia.

6.      ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Masalah pendidikan dan teknologi di dalam masyarakat suku Sunda sudah bisa dibilang berkembang baik.Ini terlihat dari peran dari pemerintah Jawa Barat. Pemerintah Jawa Barat memiliki tugas dalam memberikan pelayanan pembangunan pendidikan bagi warganya, sebagai hak warga yang harus dipenuhi dalam pelayanan pemerintahan. Visi Pemerintah Jawa Barat, yakni "Dengan Iman dan Takwa Jawa Barat sebagai Provinsi Termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibukota Negara Tahun 2010" merupakan kehendak, harapan, komitmen yang menjadi arah kolektif pemerintah bersama seluruh warga Jawa Barat dalam mencapai tujuan pembangunannya.
Pembangunan pendidikan merupakan salah satu bagian yang sangat vital dan fundamental untuk mendukung upaya-upaya pembangunan Jawa Barat di bidang lainnya. Pembangunan pendidikan merupakan dasar bagi pembangunan lainnya, mengingat secara hakiki upaya pembangunan pendidikan adalah membangun potensi manusia yang kelak akan menjadi pelaku pembangunan.
Dalam setiap upaya pembangunan, maka penting untuk senantiasa mempertimbangkan karakteristik dan potensi setempat. Dalam konteks ini, masyarakat Jawa Barat yang mayoritas suku Sunda memiliki potensi, budaya dan karakteristik tersendiri. Secara sosiologis-antropologis, falsafah kehidupan masyarakat Jawa Barat yang telah diakui memiliki makna mendalam adalah cageur, bageur, bener, pinter, tur singer. Dalam kaitan ini, filosofi tersebut harus dijadikan pedoman dalam mengimplementasikan setiap rencana pembangunan, termasuk di bidang pendidikan. Cageur mengandung makna sehat jasmani dan rohani. Bageur berperilaku baik, sopan santun, ramah, bertata krama. Bener yaitu jujur, amanah, penyayang dan takwa. Pinter, memiliki ilmu pengetahuan. Singer artinya kreatif dan inovatif.Sebagai sebuah upaya mewujudkan pembangunan pendidikan berfalsafahkan cageur, bageur, bener, pinter, tur singer tersebut, ditempuh pendekatan social cultural heritage approach. Melalui pendekatan ini diharapkan akan lahir peran aktif masyarakat dalam menyukseskan program pembangunan pendidikan yang digulirkan pemerintah
7.       ADAT ISTIADAT
UPACARA ADAT PERKAWINAN SUKU SUNDA
Adat Sunda merupakan salah satu pilihan calon mempelai yang ingin merayakan pesta pernikahannya. Khususnya mempelai yang berasal dari Sunda. Adapun rangkaian acaranya dapat dilihat berikut ini.
  1. Nendeun Omong, yaitu pembicaraan orang tua atau utusan pihak pria yang berminat mempersunting seorang gadis.
  2. Lamaran. Dilaksanakan orang tua calon pengantin beserta keluarga dekat. Disertai  seseorang berusia lanjut sebagai pemimpin upacara. Bawa lamareun atau sirih pinang komplit, uang, seperangkat pakaian wanita sebagai pameungkeut (pengikat). Cincin tidak mutlak harus dibawa. Jika dibawa, bisanya berupa cincing meneng, melambangkan kemantapan dan keabadian.
  3. Tunangan. Dilakukan ‘patuker beubeur tameuh’, yaitu penyerahan ikat pinggang warna pelangi atau polos kepada si gadis.
  4. Seserahan (3 - 7 hari sebelum pernikahan). Calon pengantin pria membawa uang, pakaian, perabot rumah tangga, perabot dapur, makanan, dan lain-lain.
  5. Ngeuyeuk seureuh (opsional, Jika ngeuyeuk seureuh tidak dilakukan, maka seserahan dilaksanakan sesaat sebelum akad nikah.)
    • Dipimpin pengeuyeuk.
    • Pengeuyek mewejang kedua calon pengantin agar meminta ijin dan doa restu kepada kedua orang tua serta memberikan nasehat melalui lambang-lambang atau benda yang disediakan berupa parawanten, pangradinan dan sebagainya.
    • Diiringi lagu kidung oleh pangeuyeuk
    • Disawer beras, agar hidup sejahtera.
    • dikeprak dengan sapu lidi disertai nasehat agar memupuk kasih sayang dan giat bekerja.
    • Membuka kain putih penutup pengeuyeuk. Melambangkan rumah tangga yang akan dibina masih bersih dan belum ternoda.
    • Membelah mayang jambe dan buah pinang (oleh calon pengantin pria). Bermakna agar keduanya saling mengasihi dan dapat menyesuaikan diri.
    • Menumbukkan alu ke dalam lumpang sebanyak tiga kali (oleh calon pengantin pria).
  6. Membuat lungkun.  Dua lembar sirih bertangkai saling dihadapkan. Digulung menjadi satu memanjang. Diikat dengan benang kanteh. Diikuti kedua orang tua dan para tamu yang hadir. Maknanya, agar kelak rejeki yang diperoleh bila berlebihan dapat dibagikan kepada saudara dan handai taulan.
  7. Berebut uang di bawah tikar sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari rejeki dan disayang keluarga.
  8. Upacara Prosesi Pernikahan
    • Penjemputan calon pengantin pria, oleh utusan dari pihak wanita
    • Ngabageakeun, ibu calon pengantin wanita menyambut dengan pengalungan bunga melati kepada calon pengantin pria, kemudian diapit oleh kedua orang tua calon pengantin wanita untuk masuk menuju pelaminan.
    • Akad nikah, petugas KUA, para saksi, pengantin pria sudah berada di tempat nikah. Kedua orang tua menjemput pengantin wanita dari kamar, lalu didudukkan di sebelah kiri pengantin pria dan dikerudungi dengan tiung panjang, yang berarti penyatuan dua insan yang masih murni. Kerudung baru dibuka saat kedua mempelai akan menandatangani surat nikah.
    • Sungkeman,
    • Wejangan, oleh ayah pengantin wanita atau keluarganya.
    • Saweran, kedua pengantin didudukkan di kursi. Sambil penyaweran, pantun sawer dinyanyikan. Pantun berisi petuah utusan orang tua pengantin wanita. Kedua pengantin dipayungi payung besar diselingi taburan beras kuning atau kunyit ke atas payung.
    • Meuleum harupat, pengantin wanita menyalakan harupat dengan lilin. Harupat disiram pengantin wanita dengan kendi air. Lantas harupat dipatahkan pengantin pria. 
    • Nincak endog, pengantin pria menginjak telur dan elekan sampai pecah. Lantas  kakinya dicuci dengan air bunga dan dilap pengantin wanita.

Buka pintu. Diawali mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab dengan pantun bersahutan dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat syahadat dibacakan, pintu dibuka. Pengantin masuk menuju pelaminan

Selengkapnya

Sajak Sunda Judul Tutuwuhan

Sajak atawa puisi sunda peryogi diuninga urang sadayana di raraga ngamumule budaya sunda. Ulah tepi ka tumpur kaelehkeun ku budaya deungeun. Sajak ieu ditulis ku basa buhun kolot baheula anu tinangtos raos pami diregepkeun.

Contoh sajak sunda di handap salah sawios puisi sunda ku bahasa sunda anu judulna Tutuwuhan, atawa dina bahasa Indonesia na mah hartosna teh tumbuhan.

Judul Sajak : Tutuwuhan

Tutuwuhan ngawarah kuring
Nitah sabar
Kapelok anu dipelak
Teu bisa nanyakeun
Iraha bakal buahan ?

Tutuwuhan ngawarah kuring
Nitah surti
Akar nu ngeteyep neangan ci hujan
Teu kadenge rumahuhna
Daun alu m kapanasan
Teu kadenge jumeritna

Tutuwuhan ngawarah kuring
Kalemah tempatna matuh
Kamanusa mere bubuahan
Gesan nyambung kahirupan

Ku: Rahmat M. Saskarana

Selengkapnya

Sajarah Sunda Nyi Raden Dewi Sartika

Ibu Raden Dewi Sartika teh ageung pisan jasana, hususna dina widang atikan. Anjeunna anu ngawitan ngadegkeun sakola kanggo kaom wanita dina taun 1904. Jadi, sanes mung saukur dina wangwangan. Ibu Dewi mah kagungan cit-cita kanggo majengkeun kaomna teh, bari jeung prakna deuih.

Profil Ibu Ajeng Raden Dewi Sartika ku bahasa sunda. Dewi Sartika dibabarkeun di Bandung, kaping 4 desember 1884. Ramana teh Patih Bandung, jenenganana Radomanagara. Ari ibuna nya eta Raden Ajeng Raja permas, putra istri Bupati Bandung anu kakoncara Dalem Bintang. Pa Somanagara kalebet menak anu maju pikiranana.

Sanaos istri, Ibu Dewi Sartika disakolakeun ka sakola Kelas Hiji. Jaman harita mah langka atuh budak Awewe bangsa urang anu sakola teh. Hanjakal henteu lami sakolana. Ibu Dewi kedah eureun di kelas 2B. ari margina, ramana dibuang ka Pulo Ternate, ku margi dianggap pahlawan ku Pamarentah Kolonial Walanda.

Ibu Dewi dicandak ngalih ka Cicalengka, ka bumi Raden Demang Suria Kartahadiningrat, anu katelah Aria Patih Cicalengka. Ibu Dewi ka anjeunna teh perenah ua.

Salami matuh di Cicalengka, Ibu Dewi rajin pisan diajar maca sareng nyerat. Sajabi ti eta, oge sok diajar ngaput, nyulam, masak, sareng sajabina. Anehna kana ngaguruan tos katingal waktos di Cicalengka keneh. Ibu Dewi sok sasakolaan. Tempatna di istal. Sabakna ku kenteng. Ari geripna ku areng atanapi apu. Ari nu jadi muridna, nya eta barudak paratukang di kadaleman aria Patih Cicalengka.

Jaman harita mah kaom wanita teh tinggaleun pisan, margi carang pisan nu sakola spertos pameget. Nya ti harita Ibu Dewi Sartika kagungan cita-cita ngadegkeun sakola pikeun kaom wanita teh.

Cita-citana tinekanan saparantos Ibu Dewi ngalih ka Bandung. Anjeunna diwidian ngadegkeun sakola ku Bupati Bandung. Harita anu janten Bupati Bandung teh nya eta R.A.A Martanagara. Tempatna di Pendopo Kabupaten, dinamian Sakola Istri.

Waktos ngawitan dibuka mah muridna mung 20 urang. Lami-lami teras nambihan, dugi ka teu katampungna, ku margi tempatna heureut teuing. Nya ahirna mah sakolana the dialihkeun ka Ciguriang. Namina oge robih, janten Sakola Kautamaan Istri. Ti harita, Ibu Dewi ngdegkeun cabang di sawatara kabupaten di Jawa Barat. Malah dii Padangpanjang, Sumatra Barat oge aya cabangna.

Tujuan atikanana kagambar dina cariosan Ibu Dewi, anu sering didugikeun ka murid-muridna.”Ari jadi awewe kudu sagala bias, ambeh bias hirup.”Hirup anu kumaha?”Hirup anu cageur bageur.”Memang basajan, tapi jembar pihartieunana.

Ibu Dewi Sartika pupus di Cineam, Tasikmalaya, dina kaping 11 September 1947. Harita teh anjeunna nuju ngungsi, ngantunkeun Bandung, ku margi aya serangan ti Walanda anu disebat Agresi Militer Kahiji tea.
Cag sakitu ieu dongeng nyata anu basa sunda, mudah-mudahan manfaat kanggo elmu pangaweruh sareng tiasa janten teladan pikeun urang samudayana.

Selengkapnya

Carita Banyolan Sunda

Banyolan Sunda - Ari basa sunda sok aya aya wae pikaseurieun tingkah polahna. Saperti nu bakal dicaritakeun di handap ieu banyolan kahiji jeung kadua. Sugan we ku ayana banyolan saperti kieu nu camberut bisa seuri. Nu baeud bisa nyerengeh...

Banyolan sunda ka hiji :
Tah ieu dongeng judulna : "KODOK Deeen…!??"
Kacaritakeun aya urang Jakarta anu nganjang ka hiji lembur anu jauh ti kota, ningali aya nu keur neangan lauk di sawah. Teras eta urang jakarta hayang apal naon nu keur dipigawe ku eta pamuda kampung, kieu obrolanana teh :
urang jakarta: "Lagi ngapain Bang…???"
urang lembur: "Biasa den, lagih ngala lauk."
urang jakarta: "Ooh ya ya, boleh saya ikut please help?"
urang lembur: "Boleh pisan atuh…"
urang jakarta: "Caranya gimana?"
urang lembur: "Ah kumaha we, yang penting mah beunang ajah lauknyah… mau di sair atow di kodok."
urang jakarta: "Ooh…!??"
Teu lila kaciri ku urang jakarta aya lele nolol deukeut liang galengan.
urang jakarta: "itu ada lele deket lubang…!"
urang lembur: "Euleuh… enya den, aya lele ngan tida’ kaciri lubangnyah, kodok den..!"
urang jakarta: Bukan kodok, itu lele yg deket lubang..!"
urang lembur: "iyah lele, tapi kodok den biar beunang, keun weh lubangmah kabur juga hese newak nyah.."
urang jakarta: Tapi itu lele kan bukan kodok?"
urang lembur: Iyah sayah juga tau.., tapi kodok den..!
Hehe... pabeulit tah antara "kodok" jeung "bangkong", tong kitu nya pamiarsa bilih ngisinkeun urang sunda...?!!!..

Banyolan nu kadua : 
Saminggu deui ka lebaran Ohim re balik ti jakarta. Ohim nelpon anakna di lembur..
Ohim: “haalloo jang kumaha cageur?
Ucil: uing cageur pa..
Ohim: si ema cageur..?
Ucil: cageur pa.. iraha bapa uih?
Ohim: minggu hareup jang..
Ucil: bawakeun oleh2 nya pa..
Ohim: enya sok sebutkeun hayang naon??
Ucil: “asseekk! uing hayang hp blekberi pa..meh gaya ka neng rina..
Ohim: “enya ku bapa di bawakeun… tuluy hayang naon deui??
Ucil: hayang hendikem pa, meh bisa nyieun pideo jeung neng rina..
Ohim: gampang ke ku bapa di bawakeun..
Tanya si ema, hayang oleh2 naon kituh??
Ucil: pa, ceuk si ema.. ema mah hayang kutang nu mahal cenah pa..
Ohim: ulah nu kitu, tanyakeun deui nu lain kituh!
Ucil: pa, ceuk si ema, mun teu kutang..cangcut we cenah nu alus.. nu didieu geus saroek cenah pa..
Ohim: ulah nu kitu kituh! nu lain we! dompet.. hp.. jam tangan.. kalung… atawa nu lain!
Ucil: embungeun pa, hayang eta wae cenah..
Ohim: euh! bejakeun teu bisa nu kitu mah!
Ucil: “naha pa ?
Ohim: “hese nyopetna!!


Taah eta carita banyolan sunda nu pantes mun dipraktekeun dina acara-acara hiburan bobodoran atawa panggung bobodoran di lembur. Mudah-mudahan manfaat kangge pamiarsa sadaya. 
Cag ah.. enjing deui...

Selengkapnya

Catetan Ngeunaan Heureuy atawa Guyonan Basa Sunda

Cenah urang Sunda mah teu bisa leupas tina heureuy, sabab eta teh geus jadi sakulit sadaging. Lain urang Sunda mun teu bisa heureuy. Di mana wae, dina kasempetan kumaha wae, pasti aya heureuyna. Nepi ka ayeuna kuring teu nyaho, ku naon pangna kitu.

Dina dunya lawak nasional, pangaruh heureuy Sunda teu bisa dilalaworakeun. Sebut wae upamana grup lawak de Bodor (Abah Us us saparakanca) atawa de Kabayan (Kang Ibing saparakanca). Maranehanana bisa disebut panaratas dina ngawanohkeun kasundaan sacara nasional. Mun teu salah, De Kabayan lahir tina acara bobodoran di radio Mara Bandung. Malah nepi ka kiwari, Kang Ibing jeung Aom Kusman, dua di antara personil De Kabayan, masih pirajeunan siaran di Radio Mara.

Taun 90-an, grup bodor Sunda kungsi nyirorot pamorna, kasilih ku Srimulat, bobodoran dina nuansa Jawa. Mahabu malah, nepi ka acara-acara bodor atawa lawak dina TV didominasi ku Srimulat atawa para anggotana sacara pribadi.

Basa Srimulat mimiti nyirorot pamorna, grup bodor Sunda nguniang deui. Upamana bae grup P Project, nu sanajan ngaranna make basa Inggris, tapi bobodoranana tetep nyoko dina bobodoran Sunda nuansa modern. Idiom-idiom Sunda mimiti akrab dina pentas bodor nasional. Grup anu tadina dingaranan Padhyangan ieu oge asalna tina acara bobodoran di radio Oz Bandung, Ozerba. Personilna campuran mahasiswa Unpad jeung Unpar. Sering manggung di kampus kampus di Bandung. Awal karir nasionalna dimimitian basa dikontrak ku SCTV. Ti dinya ngaran Iszur, Denny Chandra, jeung Joe saparakanca geus jadi sabiwir hiji. Nya kelompok ieu pisan nu mimiti ngagarap bodor sacara daria. Maranehanana ngabogaan sababaraha divisi pikeun ngagarap ilustrasi musik, sound effect, kostum, naskah jsb.

Kabehdieunakeun aya acara Extravaganza di Trans TV. Pamaenna didominasi ku urang Sunda. Beda ti kalolobaanana grup lawak saperti Srimulat upamana, extravaganza ngandelkeun script tur teu kaci loba teuing improvisasi. Ku sabab loba urang Sundana, grup atawa acara ieu oge karasa pisan nuansa Sundana.

Basa TPI ngayakeun Lomba Lawak API (Audisi Pelawak Indonesia), loba grup lawak asal Bandung urang sunda nu katembong potensina. Malah juarana ge ti Bandung, SOS. Nu kaitung nyongcolang ti grup SOS, aya personilna nu alus ngawih Sundana, Sule. Ngadenge gelak-gelikna Sule nembang Sunda, kuring jadi inget ka Mang Ukok jeung Mang Utun ti Jenaka Sunda (mun teu salah). Jaman kiwari geus arang pisan budak ngora nu mibanda kamampuh saperti Sule. Lian ti eta, aya Oni anu ti rupa nepi ka rengkak paripolahna nyeples Kang Ibing.

Mun nengetan hal-hal anu ditataan di luhur, asa teu salah mun urang ngarasa reueus. Urang Sunda, leupas tina sagala kahengkeranana, tetep mibanda potensi anu teu bisa dilalaworakeun. Buktina maranehanan bisa kitu teh salah sahujuna ku sabab teu era ngasongkeun konsep anu nyoko dina ajeg-ajeg kasundaan. Idiom idiom ekspresi kasundaan nu dikahareupkeun ku maranehanana tetela geus jadi ciri nu mandiri, tur dipikaresep lain ku urang Sunda wungkul.

Lamun dina dunya hiburan (dina hal ieu: lawak) urang Sunda bisa nembongkeun 'sihung', asa piraku mun dina ambahan sejen urang teu bisa kitu. Nu penting kudu aya kasadaran ti urang salaku urang Sunda, ulah nepi ka era nembongkeun jatidiri kasundaan. Tong era ngaku urang Sunda, tong era nyarita ku basa Sunda, tong era nembongkeun yen urang mibanda jatidiri kasundaan.

Mun urang boga budak, ajak nyarita ku basa Sunda, wawuhkeun kana budaya Sunda. Ulah ngarasa reueus mun anak urang palahak-polohok teu ngarti basana sorangan: Basa Sunda. Kudu hariwang mun anak urang kerung ngadenge kacapi suling. Atik maranehanana sangkan ngimpi ge mun bisa mah ku basa Sunda. Ulah ngan ukur nyalahkeun pangaruh budaya deungeun nu mahabu bari jeung euweuh tarekah ti urang pribadi pikeun ngadadasaran kulawarga sangkan panceg dina ajeg-ajeg kasundaan. Mun kabeh urang Sunda boga niat ngamumule budaya Sunda tur ngamimitian jeung prakna di lingkungan kulawargana, insya Alloh urang Sunda teh moal pareumeun obor. Mudah-mudahan.
Baca oge: Kumpulan artikel pergaulan.

Selengkapnya

Nampi Panganten | Contoh Pidato Bahasa Sunda

Anu meryogikeun contoh naskah pidato bahasa sunda nampi panganten tiasa diawos dina seratan di handap ieu. Ka para wargi anu maksad bade nyutat atanapi ngopi, dihaturanan sareng link na.
----------------
muqoddimah
Hadirin anu dimulyakeun, para tamu /rombongan anu jajap panganten pameget anu dipihormat!

Alhamdulillah kalayan rahmat Allah anu Agung urang sadaya parantos tiasa riung mungpulung, anging takdir ti Ilahi, urang tiasa silaturahmi dina ieu wanci anu mustari, pangersa Allah anu maha Kawasa, tepang rasa, tepang basa, sareng kanca mitra sadaya.

Teu aya sanes anu janten cukang lantaran, ku tepungna tantung, pacangreudna deudeuh, patalina asih, tug dugika jatukramina laki rabi tuang putra Nyi ........... ka pun anak ............ anu kalayan takdir Ilahi parantos waluya bagja rahayu anu dituju, tinekanan diwalimahan dina dinten ieu .........

Hadirin anu mulya, para tamu rombongan panganten, utamina sepuh panganten pameget! Langkung ti payun seja sanduk-sanduk, mugia agung cukup lumur, jembar hapunten anu kasuhun rehing dina tata titi, duduga peryoga, tata cara kumaha kedahna nampi tamu, estu tumamu, tebih tina nyumponan kautamian, estuning walurat pisan. Hapunten sanes henteu ngutami, atanapi kirang hormat, namung nya sakieu kabuktosannana anu kadada kaduga. Ari karep mah hoyong nyugemakan, namung pakeun anu henteu tiasa dipinding-pinding, estu nya sakieu kabuktosanana.

Para hadirin anu mulya, rombongan panganten pameget, kalih sepuh panganten pameget sarimbit!

Jisim kuring kalayan asmana pun anak seja nyambung saur, ngadugikeun gerentes ati anu kagungan maksad, nyatana sepuh panganten istri geusan nampi papasrahan ti pihak sepuh panganten pameget anu parantos ngadugikeun kalayan jentre merele, atra nyata, anu direka ku basa anu ngahudang rasa, estu kahartos pisan sartas saluyu sareng lelembutan, naon anu dipimaksad.

Kukituna dina ieu wanci anu mustari mugi disaksi sim kuring seja nampi, kalayan Nyebat asma Allah anu welas asih, ting silumanting, baeu anaking, ditampi ku asih wening trang silumejang, si ujang muga kenging kabagjaan, sadami renghapna, sakujur jasadna, getihna satetes, buukna salambar. Gumulung tangtung hirup huripna. Sumanding jirim raga badag jeung lembutna Seja disanggakeun ka anu kagungan sareng anu nyiptakeun Allah Robbul Alamin. Diraksa dijaring ku welas asihna Gusti Nu Maha Suci tur Maha Rohman Maha Rohim. Muga pinareng panjang punjung kalayan ridho Anu Maha Agung, rumah tangga bagja waluya, di dunya tug dugi ka alam baqa, Amin Ya Robbal ‘alamin.

Dirina ditampi, maksadna ditarima, oge ruruba pangjajap, cacandakan anu sakitu seueurna, sareng nyugemakannana, ditampi ku asta kalih, tumamprak panangan muji syukur, tasyakur bini’mah, kana rizki welas asihna Gusti, anu kalayan karidoan galih pinuh ku kaiklasan manah parantos dipasihkeun/ dipasrahkeun ka pihak sepuh panganten istri.

Mudah-mudahan sing jadi barokah, jadi amal kasaean kanggo anu masrahkeunana, muga jadi kamangfaatan dunya aherat kanggo anu nampina. satemenna kakangen ati kalayan sareng kareueus ku parantos cunduk waktu sareng dipasrahkeun.

Anaking! anak bapa teu wasa ngagambarkeun ku basa, teu mahi kumaha kedahna males budi ka nu janten sepuhna panganten pameget sareng rombogan, anu sami-sami jajap, anu parantos masihan ajen pinuji ka sim kuring sakulawarga, utamina ka pun anak. Sadaya kasaean seja disanggakeun ka Anu Maha Adil, maha Wijaksana, ka Allah Anu welas asih, mugia dijantenkeun amal kasaean. Amiin.

Rupina lisan panampian dicekapkeun sakieu, Atuh salajengna oge sakedik amanat anu mangrupikeun tali asih simpay kanyaah, mudah-mudahan sing jadi pamatri enggoning laki rabi, pangrumat rumah tangga, jadi obor dimana poek, jadi kamudi bahterana laki rabi.

Mugi diregepkeun ku Ujang Nyai Panganten jeler istri. Anaking! Poe ieu hidep narima amanat. Pek buktikeun tangungjawab hidep kana ieu amanat. Anu hakekatna amanat ti Gusti Allah. Pek geura tatan-tatan, tarik jangkah beber layar, ngajugjug kana pulo pangharepan hidep duaan.

Anaking! Coba lenyepan ieu amanat Luqmaul Hakim ka putrana. Wahai anaking! Kahirupan teh lir ibarat samudra, jerona satunjang jagat, legana parat ka langit. Pengeusina salaksa haq, saketi batil, hade goreng bagja cilaka pagaliwota, sorangeun piliheun hidep duaan. Anaking perhatikeun munggaran lesotna jangkar, bral miang nyandang harepan. Kapalna wujuding taqwa, eusina wajaning iman, umbul-umbulna Dinul Islam, padomananan nurut dawuh sunah Rasulullah SAW. Balabuhna lebah palataran katengtreman (tawakal alal Loh) Insya Allah kapal hidep baka kuat norobos lambak anu kuat di tengah-tengah sagara kahirupan.

Anaking, Prak geura lengkahkeun suku hidup duaan dina ngambah kahirupan anyar, kahirupan rumah tangga. Hiliwir angin kaasih, hulowatan kabagjaan mugia tinekaan bari ulah hilap ucapkeun.

Tutug anu dituju, tuntas anu diseja. Sakitu nya kedalna ieu rasa, anu kapaksa satiasa-tiasa diolah ku basa, anu tuna pangabisa, sih hapunten tangtos pakusut nyebut, pasolengkrah pasalia, caturna teu ka ukur ku ugeran, engangna teu di ungang engang, tata titina tebih ti utami, sih haksami anu dipamrih, mugia agung cukup lumur, jembar pangaputen tina sagala rupi kakiranganana.
wassalaamu'alaikum warohmatulloh...
Link ieu peryogi dibaca oge mangrupi : runtuyan acara nikah lengkep ti kawit dugi ka akhir.

Selengkapnya

Sajarah Asal Mula Urang Sunda


Sejarah Sunda dengan Dua Perahu
SUDAH sejak tahun 1950-an orang Sunda gelisah dengan sejarahnya. Lebih-lebih generasi sekarang, mereka selalu mempertanyakan, betulkah sejarah Sunda seperti yang diceritakan orang-orang tua mereka? Katanya, kekuasaannya membentang sejak Kali Cipamali di timur terus ke barat pada daerah yang disebut sekarang Jawa Barat dengan Prabu Siliwangi sebagai salah seorang rajanya yang bijaksana. Betulkah? Sejarah Sunda memang tidak banyak berbicara dalam percaturan sejarah nasional. “Yang diajarkan di sekolah, paling hanya tiga kalimat,” kata Dr Edi Sukardi Ekadjati, peneliti, sejarawan dan Kepala Museum Asia Afrika di Bandung. Isinya singkat saja hanya mengungkap tentang Kerajaan Sunda dengan Raja Sri Baduga di daerah yang sekarang disebut Jawa Barat, lalu runtuh.
Padahal, kerajaan dengan corak animistis dan hinduistis ini sudah berdiri sejak abad ke-8 Masehi dan berakhir eksistensinya menjelang abad ke-16 Masehi. Kisah-kisahnya yang begitu panjang, lebih banyak diketahui melalui cerita lisan sehingga sulit ditelusuri jejak sejarahnya. Tetapi ini tidak berarti, nenek moyang orang Sunda di masa lalu tidak meninggalkan sesuatu yang bisa dilacak oleh anak cucunya karena kecakapan tulis-menulis di wilayah Sunda sudah diketahui sejak abad ke-5 Masehi. Ini bisa dibuktikan dengan prasasti-prasasti di masa itu.
Memang peninggalan karya tulis berupa naskah di masa itu hingga kini belum dijumpai. Tetapi setelah itu ditemukan naskah kuno dalam bahasa dan huruf Sunda Kuno, yakni naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian yang selesai disusun tahun 1518 M dan naskah Carita Bujangga Manik yang dibuat akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16. Suhamir, arsitek yang menaruh minat besar dalam sejarah Sunda menjuluki naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian sebagai “Ensiklopedi Sunda”.
Naskah-naskah lainnya adalah Cariosan Prabu Siliwangi (abad ke-17 atau awal abad ke-18), Ratu Pakuan, Wawacan Sajarah Galuh, Babad Pakuan, Carita Waruga Guru, Babad Siliwangi dan lainnya.
NASKAH Sanghyang Siksa Kana Ng Karesian dan Carita Bujangga Manik disusun pada zaman Kerajaan Sunda-Pajajaran masih ada dan berkembang. Karena itu, dilihat dari kacamata sejarah, kedua naskah tersebut bisa jadi sumber primer. Sedangkan naskah-naskah lainnya yang disusun setelah Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh termasuk sumber sekunder. Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh pada tahun 1579.
Kedua naskah tersebut ditulis dengan bahasa dan huruf Sunda Kuno. Sedangkan naskah lainnya ada yang ditulis dengan bahasa dan huruf Jawa, bahasa dan huruf Arab, bahasa Jawa-Sunda atau huruf Jawa tapi bahasanya bahasa Sunda seperti naskah Carita Waruga Guru dan bahasa Melayu dan huruf Latin. Sampai tahun 1980-an, pembuatan naskah Sunda masih terus berlangsung meskipun dalam bentuk penyalinan.
Naskah Siksa Kanda Ng Karesian dan Carita Bujangga Manik ditulis di atas daun lontar dan daun palem. Naskah-naskah lainnya ada pula yang ditulis di daun nipah, daun enau atau daun kelapa. Cara menulisnya dikerat/digores dengan menggunakan alat yang disebut peso pagot, sejenis pisau yang ujungnya runcing. Sedangkan naskah-naskah yang lebih muda menggunakan kertas sebagai pengganti daun dan ditulis dengan menggunakan tinta.

Selengkapnya